->Program Dharma Bakti Sarjana
Program Dharma Bakti Sarjana
Tempo hari, ketua pembina Forum Rektor Indonesia, Prof. Ir. Eko Budihardjo M.Sc., yang juga rektor UNDIP, terperangah, manakala ada seorang rektor dari PTN ternama dengan berapi-api mengatakan, “Tugas saya yang terutama sebagai rektor adalah mencari uang” (Harian SINDO, 5 Oktober 2006). Masih beberapa waktu yang lalu juga, seorang tokoh pendidikan nasional—dalam sebuah koran nasional—mengeluhkan kondisi anaknya, yang dengan entengnya berkata tanpa beban, bahwa tidak masalah baginya bekerja di mana pun di luar negeri, terutama di perusahaan asing yang multinasional.
Dunia pendidikan tinggi, kini sedang kehilangan orientasi. Pendidikan yang semestinya dipegang penuh dan disubsidi pemerintah, kini mulai dibelit ideologi kapitalsime-global. Bahwa segalanya diperuntukkan dan berdasar hukum kapital. Ini terbukti dengan diajukannya RUU Badan Hukum Pendidikan ke DPR. Di mana Perguruan Tinggi Negeri akan diotonomikan atau diprivatisasi, sehingga pengelolaannya mirip swasta. Tapi setidaknya kita masih berharap, bahwa tujuan diajukannya RUU BHP lebih kepada urusan pengelolaan manjerial kampus yang profesional, bukan kepada perubahan substansi tujuan pendidikan tinggi itu sendiri. Tapi kecenderungan dunia kampus yang hanya menciptakan para tukang dan para pedagang semata, kini mulai terasa. Para lulusan perguruan Tinggi yang canggih dalam kemampuan teknik dan berhitung dagang, tapi sebenarnya mereka tidak bisa memenuhi standar tuntutan ideal dari tujuan pendidikan itu sendiri. Ini terbukti dengan semakin terpuruknya bangsa ini dalam persoalan-persoalan yang multidimensi, sehingga sulit untuk mengurai benang kusutnya. Padahal nasib negeri ini bersandar kepada para lulusan-lulusan kampus yang berkualitas tinggi, dalam keilmuan maupun mental dan moralitasnya. Tujuan pendidikan, bagaimanapun terkait erat dengan pandangan dunia-ontologinya. Tapi setidaknya kita memiliki pijakan dasar bagi pandangan dunia ini, yang termaktub implisit dan eksplisit dalam Pancasila, UUD 1945 maupun GBHN. Jika diturunkan lebih membumi, tujuan pendidikan tinggi setidaknya mencetak manusia yang memiliki kepekaan atas permasalahan negeri ini. Tujuan pendiikan tinggi yang transformatif seharusnya bisa memampukan individu untuk berpikir kritis, bisa membekalinya untuk bisa hidup bersama dalam pluralitas dan bersentuhan dengan kehidupan nyata di masyarakat dengan segala kompleksitasnya. Kepekaan atas persolaan dasar di masyarakat, sebagai manifestasi kepedulian atas sesama dan ukuran moralitas, menuntut setiap lulusan untuk bisa terjun ke masyarakat berbekal ilmu yang dimilikinya. Karena, dimulai dari kepekaan membaca masalah ini, akan berlanjut kepada upaya pemecahan masalah yang genial dan unik. Khas di setiap masyarakat dalam budaya yang berbeda-beda. Karena itulah tuntutan agar para sarjana bisa mendermakan ilmunya di sebagian besar wilayah di Indonesia, terutama di desa-desa, sudah harus menjadi bagian kebijakan perguruan tinggi. Masih ada sekitar 16,6 % (data tahun 2004) penduduk miskin, wilayah-wilayah yang belum tergali potensi alamnya, dan masyarakat yang kapasitasnya belum diberdayakan. Karena dasar bagi pembangunan negeri, ada pada program yang langsung menyentuh masyarakat sampai di tingkat desa. Desa adalah basis negara. Agaknya, daripada bingung dengan urusan privatisasi kampus, ada baiknya usulan agar pemerintah mensubsidi penuh PTN perlu dilihat kembali, tapi dengan beberapa tuntutan, salah satunya dengan program “Dharma Bakti Sarjana”. Yakni sebuah program yang mewajibkan setiap lulusan, atau sarjana baru, untuk terjun langsung ke masyarakat, live ini di sana dalam beberapa kelompok paling tidak selama 1 sampai 2 tahun di wilayah-wilayah yang ditentukan. Mirip semacam PTT bagi para dokter yang baru lulus. Tinggal pemerintah menentukan kebijakannya, mekanisme pembekalan materi awal seperti materi pemberdayaan mayarakat, dan kemampuan teknis di lapangan (misal penggunaaan GPS, pemetaan partisipatif dll). Program seperti ini diharapkan akan berguna bagi para sarjana untuk mengasah aspek perasaan terdalam para sarjana (seperti kecintaan kepada negeri), memupuk empati akan persoalan riil di masyarakat dan pengembangan imajinasi dalam proses kreatif, sebagai pelengkap bagi kemampuan analisis-empirisnya yang didapat di bangku kuliah. Bagaimana






