->Pendirian SMP Terbuka

Pendirian SMP Terbuka


Keputusan keluarga Pasanggrahan untuk bergerak di bidang pendidikan formal sebenarnya telah terpendam cukup lama. Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya kami sepakat untuk membentuk SMP Terbuka. Hal ini didasarkan juga kepada kebutuhan masyarakat di sana. Ada fakta yang cukup berat yang kami hadapi di lapangan, bahwa kualitas atau mutu lulusan SD lokal yang sangat rendah. Ini sebuah keadaan yang wajar, mengingat fasilitas infrastruktur dan SDM atau tenaga pengajar yang jauh dari kondisi layak. SD Cinangsi hanya terdiri dari dua ruang kelas, dengan satu tenaga pengajar tentu saja akan sangat kesulitan untuk menghasilkan standar kompetensi minimal yang disaratkan dalam kurikulum. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar lulusan SD di sana belum bisa membaca dan berhitung dengan lancar.

Syarat 20 orang siswa yang mendaftar, saat kami mengumumkan rencana pendirian SMP Terbuka, masih belum terpenuhi. Tapi menjelang tahun ajaran baru 2005, tiba-tiba ada beberapa orang tua yang mendaftarkan anaknya ke SMP Terbuka. Sehingga syarat jumlah siswa yang mendaftar akhirnya terpenuhi.

Karena rencana pendirian SMP Terbuka ini sudah terpublikasikan ke masyarakat, kendati dengan waktu yang sangat sempit, kami mencoba mengajukan diri untuk mendirikannya. Akhirnya, berdirilah SMP Terbuka Pasanggrahan Baranang Siang, dengan menginduk kepada SMP Negeri Peundeuy.
Kehadiran SMP Terbuka ini, mau tidak mau mengubah pula arah kebijakan yang dilakukan oleh keluarga Pasanggrahan. Hampir semua anggota keluarga (kecuali de Ahmad, Muti, dan Dewi; karena mereka masih anak-anak dan balita) menjadi tenaga pengajar sukarela.

Setelah berjalan beberapa waktu, ada beberapa siswa yang kemudian memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah dengan beragam alasan : mulai dari menikah, harus pergi ke kota, atau alasan membantu orang tua, akhirnya yang tersisa sampai sekarang adalah 16 orang siswa.

Bulan-bulan pertama pengajaran, kami cukup kesulitan untuk mengelolanya, mengingat keragaman tingkat pengetahuan dan usia di antara siswa yang cukup tajam. Siswa tertua yang tercatat berusia 17 tahun, dan termuda baru usia 11 tahun. Ditambah dengan beberapa siswa yang benar-benar sudah kehilangan semangat dan orientasi untuk belajar. Permasalahan ini kemudian semakin memberat, akibat para siswa yang tidak terdidik untuk disiplin dalam jam pelajaran, mengerjakan PR, dan sekadar mendengarkan pelajaran yang diberikan gurunya.

Setelah beberapa bulan berlangsung, akhirnya kami memutuskan untuk mengubah orientasi dan target pengajaran. Untuk tahun pertama (Kelas Satu SMP), kami hanya menargetkan semua siswa bisa membaca dan berhitung dengan lancar. Karena kami merasa mereka sangat kesulitan untuk mengabstraksikan sebuah persoalan atau permaslaahan di setiap mata pelajaran, kami akhirnya membawa mereka ke hal-hal yang lebih konkret atau riil yang terjadi dalam keseharian mereka. Misalnya, kami mengajak mereka untuk mengolah tanah, bertani, berkebun, memelihara ikan, atau sekadar melakukan survey ke daerah-daerah tertentu. Dari sinilah kami mengajari para siswa beberapa mata pelajaran sekaligus. Ketika mereka harus mengolah tanah untuk ditanami bibit, mereka mau tidak mau harus bisa menghitung luas tanah, menghitung berapa bibit pohon yang dibutuhkan, sekaligus belajar jenis tanaman untuk mata pelajaran biologi, dll. Begitulah, cara kami mengajari mereka.

Metode ini ternyata jauh cukup berhasil, dibandingkan kami harus mengajari satu demi satu mata pelajaran. Sedangkan untuk melatih kedisiplinan, mereka diajari kepramukaan, sebagai ektstra kurikuler. Juga diajari pendidikan bela negara. Ternyata, juga cara ini dirasa berhasil dalam menanamkan dan meningkatkan kedisiplinan para siswa.[Budi Fajar]

Tags
Serambi | Tentang Kami | Kontak Kami | Webmaster